Kamis, 12 Desember 2013
Bukan
sakit yang aku rasakan, mungkin lebih ke gundah. Baru saja aku baca pesan singkat dengan nada “Terserah kamu”. Kalimat yang simple, tapi itu memendam arti yang sangat
tajam bagiku. Teringat pernyataan seorang Anindita, terserah yang keluar dari
mulut seorang perempuan itu semata-mata sebuah kode. Ya, kode kalau perempuan
itu inginnya bukan seperti itu. Ah, lucunya..
Shinta (sebut saja itu)
memang bukan perempuan pertama yang aku suka di Universitas ini. Kenalnya pun setelah
aku menginjak smester 3 lalu. Mungkin orang spertiku memang naïf. Tapi kalau
boleh jujur, aku sudah memperhatikan dia sejak smester 2, ya, ketika matkul
(Mata Kuliah) interdept dipelajari. Untuk orang baru dan tidak punya “cinta”
pada hari-harinya aku mencoba mencari-cari perempuan yang dapat menarik hatiku
walau hanya sekedar melihatnya dari kejauhan. Dan Shinta adalah salah satu
perempuan yang masuk dalam radar itu. Tak bisa bohong, memang ada Andin,
Kharisma, Nurul dan Anggi di dalamnya. Sayangnya, aku tak berani mendekati
Shinta dari dulu, karena aku pikir dia sudah bukan perempuan yang sendiri
(Sudah punya “cinta”). Penantian pun teus berlanjut sampai semester 3 dimulai.
Sediktinya aku sudah tau informasi tentang dia, walaupun memang aku jalan sama
orang lain. Dan yang tak aku sadari adalah aku merasa cemburu ketika Deri suka
sama Shinta. Cemburu yang dalam. Padahal aku belum kenal, belum pernah bertegur
sapa, dan belum pernah berdekatan. Ternyata ini jalannya, jalan yang luar biasa
Allah SWT tunjukan dalam dunia asmaraku. Ternyata rasa cemburu itu membimbingku
menuju pekenalan dengan dia. Aku sangat berterima kasih sama Deri, dia telah
banyak cerita mengenai perasaannya terhadap Shinta padaku, dan hal itu telah
mengisi setiap informasi yang selama ini masih buta tentang Shinta.
Lucu
rasanya, ketika nalar ini mencoba mengingat masa-masa itu..
Masa-masa
dimana aku memberikan saran terbaikku untuk membantu Deri mnyampaikan
perasaannya. Aku sangat bersemangat kala itu..
Bahkan ketika Deri mulai
pasrah akan perasaannya itu. Karena memang, aku akui kalau Shinta adalah
perempuan terhebat yang aku tau tentang ini. Dia tak pernah berbuat dengan
gampang dan memutuskan sesuatu dengan tanpa pemikiran yang matang.
Kerennya…
Teringat kalau deri pernah
berkata, “pengen buat lagu ni buat Shinta”… entah kenapa pikiranku langsung
berpikir dengan cepat…
Aku coba mencari-dan mencari
alunan nada yang indah dan romantic untuk sebuah lagu yang akan mengantarkan
suatu perasaan pada Shinta. Mungkin aku tak memainkannya langsung dengan gitar,
karena aku merasa Derilah yang harus memainkannya. Tapi, nada dan alunannya
adalah murni dari hatiku sendiri. Hehe, lucunya..
Lirik yang diucapkan Deri
hanya sebatas “Shinta… Shinta…Shinta…” dengan alunan A minor.
Bahagia rasanya bisa
mencurahkan isi hati ini melalui nada dan irama untuk seseorang yang kita
sayang, hanya saja aku belum bisa mengatakannya secara langsung.. bahkan sampai
saat ini.. saat dimana aku sudah jalan dengan Shinta selama 87an hari.
Ah… indah sekali masa-masa
itu.. masa dimana aku mengagumi dia siang dan malam.. tiga bulan aku mencoba
kenal dia, dan itu sangat wajar untuk orang yang menyukainya.
Angin sejuk di pagi ini sangat
menenangkanku dari semua kegelisahan hatiku pada Shinta.
Jujur, memang akhir-akhir ini Shinta sedikit rewel. Hehe.. Ya mungkin karena
akunya juga yang belum bisa memahami apa yang dia mau setiap waktunya. Tapi
dari awal sudah aku putuskan kalau aku gak akan pernah berhenti bersabar dan
berhenti menyayangi dia walaupun dia seperti itu.
Satu yang selalu aku pegang
sebagai pedoman dalam berhubungan dengan orang, “aku tak akan mempersalahkan
dia bagaimanapun kasarnya dia, bagaimanapu juteknya dia, bagaimanapun kurang
dan lebihnya dia,. Aku hanya cukup berusaha menjadi yang terbaik baginya,
bersabar sedikit saja dan membangun sikap yang sopan dan santun terhadapnya,.
Meski sepahit apapun ujungnya, setidaknya aku sudah belajar berbuat baik pada
orang itu. Itulah yang dinamakan kualitas diri yang paling berharga yang tak
pernah sama orang miliki, bahkan oleh orang kaya dan orang pandai sekalipun.”
Angin sepoy di gymnasium ini
cukup akrab.. dia menyapaku dengan lembut dan menggoda.. agar aku tak lekas
pergi dan berhenti bercerita tentang orang yang aku sayang, ya, itu Shinta..
Pohon rambutan yang berdiri
kokohpun terus mnatapku dengan tajam dan ramah..
Andai aku bisa disini lebih
lama lagi, dan dengan adanya dia di sisiku.. mungkin aku akan biarkan dia
bersandar di bahu kananku sambil merasakan yang sekarang aku rasakan..
#bersambung..